RUPS LB Bank Riau Kepri Tahun 2018 Sahkan Spin Off Syariah

0
161

PEKANBARU (bidikberita.com) – Pada RUPS Tahun 2017 dan RUPS LB Tahun 2018 Bank Riau Kepri (BRK) yang berlangsung pada 9 Februari 2018 lalu, termasuk yang disahkan adalah proses Spin Off Bank Syariah BRK dengan nama Bank Kepri Riau Syariah. Pengesahan ini disambut baik masyarakat di kedua provinsi yang penduduknya mayoritas muslim.

Potensi usaha syariah di Riau dan Kepulauan Riau cukup besar, terutama di Kepulauan Riau. Apabila dilihat dari aspek budaya dan sejarah mengungkapkan bahwa kerajaan melayu di Provinsi Riau dan Kepri merupakan kerajaan yang identik dengan nilai-nilai keislaman.

Demikian juga dengan kehidupan masyarakat sehari-hari yang berperilaku secara islami baik dari segi budaya, aktivitas maupun usaha.

Dalam RUPS tersebut di syahkan kinerja tahun 2017 BRK dimana BRK bukukan laba tahun buku 2017 sebesar Rp 454.395 miliar dan berhasil menumbuhkan asset dari Rp 21.22 T pada akhir tahun 2016 menjadi Rp 25,492 T pada akhir tahun 2017 atau bertumbuh sebesar Rp4,3 T.

Direktur Utama BRK Dr Irvandi Gustari mengatakan, pada dasarnya Propinsi Riau dan Propinsi Kepulauan Riau tidak mau dipisahkan, biarlah yang terpisahkan secara administrasi saja. “Namun secara tatanan sosial dan budaya serta kolaborasi bisnis adalah, satu rumpun yang tidak terpisahkan,” kata Irvandi.

Itulah yang menjadi dasar utama ingin didirikannya Bank Syariah yang juga dimiliki oleh kedua Pemerintahan di kedua provinsi tersebut. “Kami juga ingin menjadi contoh atau role model bagi Pemerintah Propinsi yang lain yang melakukan pemekaran wilayah. Sehingga tidak perlu membentuk BPD (Bank Pembangunan Daerah ) yang baru,” kata Irvandi.

Acara tahunan ini dihadiri Wakil Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim dan Gubernur Kepulauan Riau yang diwakili Sekretaris Daerah Kepulauan Riau Dr TS Arif Fadila. Serta 19 orang Bupati/Wali kota dari dari Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau.

Antara lain,, Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus, MT, Wali Kota Dumai Zulkifli AS, Wali kota Batam diwakili Sekdako Jefridin, Plt Wali Kota Tanjung Pinang R Ariza, Bupati Kampar Aziz Zaenal, Bupati Bengkalis diwakili Asisten II Heri Indra Putra, Wakil Bupati Inhu Khairizal, Bupati Inhil yang diwakili Sekda Said Syarifuddin, Bupati Bintan Apri Sujadi, Bupati Karimun diwakili Sekda M Firmansyah, Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal, Wakil Bupati Siak Alfedri, Bupati Pelalawan HM Harris.

Bupati Kuantan Singingi Mursini, Bupati Rokan Hulu Sukiman, Bupati Rokan Hilir diwakili Sekda Surya Arfan, Wakil Bupati Lingga M Nizar, Bupati Meranti Irwan Nasir dan Bupati Anambas Abdul Haris.

Secara menyeluruh kendati ekonomi sumatera pada triwulan III lebih rendah tumbuhnya. Yaitu sebesar 4,34 % dibandingkan dengan tumbuhnya ekonomi Indonesia sebesar 5,06 % dan ditambah lagi pada triwulan III pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau adalah sebesar 2,85 % dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepri 2, 41 %.

Maka dengan hasil kerja keras seluruh insan Bank Riau Kepri diperoleh laba sebesar Rp 454.395 miliar pada tahun buku 2017.

Dan angka tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 452.9 miliar. Laba BRK bertumbuh sebesar 0,34 % dan hal itu jauh lebih baik pada kondisi perbankan nasional khususnya pada buku II yaitu pertumbuhan laba minus 14,92 % pada tahun 2017 (per Oktober).

Lebih lanjut mengenai kredit BRK pada tahun 2017 bertumbuh sebesar 3,06 % yaitu dari Rp 15.088 T bertumbuh menjadi Rp 15.546 T.

Prestasi pertumbuhan kredit yang diraih bank berlogo tiga layar terkembang ini jauh lebih baik pada kondisi perbankan buku II secara nasional yaitu bertumbuh minus sebesar 8,92 % (per November 2017).

Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) yang diraih bank kebanggaan masyarakat Riau dan Kepri ini pada akhir tahun 2017 adalah bertumbuh sebesar 37,11 % yaitu dari Rp 12.049 T pada akhir tahun 2016 menjadi Rp 16.520 T pada akhir tahun 2017.

Hal yang perlu dicermati bersama adalah mengenai komposisi dana Pemerintah Daerah vs dana non Pemerintah Daerah yaitu dana Pemerintah Daerah dengan porsi 3,34 % dan dana non Pemerintah Daerah sebesar 96,66 %.

Lebih lanjut mengenai pertumbuhan asset yang diraih BRK pada tahun 2017 yaitu bertumbuh sebesar 20,13 % dan pencapaian itu jauh diatas pertumbuhan asset perbankan di Indonesia yaitu berkisar sebesar 10,59 % (per November 2017).

Pertumbuhan asset itu secara nominal adalah pada akhir tahun 2016 sebesar Rp21.221 T bertumbuh menjadi Rp25.492 T pada akhir tahun 2017 atau meningkat sebesar Rp4,3 T.

Untuk BOPO BRK pada akhir tahun 2017 yaitu sebesar 78,1 % dan hal itu jauh lebih efisien dibandingkan dengan perbankan pada buku II secara nasional yaitu sebesar 85,65 %.

BOPO merupakan perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan operasional dan ini merupakan ukuran efisiensi suatu bank.

BOPO BRK dibandingkan 4 BPD lainnya di Sumatera yang sama-sama memiliki asset di atas Rp 20 T, BRK secara relatif lebih efisien.

Mengenai penanganan Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet, BRK berhasil membukukan NPL gross sebesar 3,92 % dan NPL net sebesar 0,16 %. Ini merupakan upaya terbaik menekan kredit macet dibandingkan dengan NPL tahun 2015 dan 2016.

Sekretaris Daerah Kepulauan Riau Dr TS Arif Fadila memberikan apresiasi terhadap kinerja gemilang bank berlogo tiga layar terkembang ini.

Dalam kondisi ekonomi yang relatif menurun di kawasan Riau dan Kepri namun BRK masih bisa meningkatkan pertumbuhan labanya.

Mengenai kinerja Unit Usaha Syariah BRK yang sebentar lagi akan berubah wajah menjadi BUS (Bank Umum Syariah), ternyata dalam dalam tahun 2017 menorehkan kerja gemilang, dimana Aset menunjukkan peningkatan sangat pesat dibandingkan 5 tahun terakhir.

Aset tahun 2017 (Rp 2,3 T) tumbuh sebesar 62,68 % dibandingkan tahun 2016 (Rp 1,4 T). Kinerja Syariah dari segi Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan peningkatan pesat pada 5 tahun terakhir.

DPK tahun 2017 (Rp 1,9 T) tumbuh sebesar 95,89% dibandingkan tahun 2016 (Rp1 T). Pembiayaan yang diberikan (PYD) menunjukkan peningkatan pada 5 tahun terakhir. PYD tahun2017 (Rp 1,4 Triliun) tumbuh sebesar 43,78% dibandingkan tahun 2016 (Rp988,8 Miliar).

Kredit Bermasalah tahun 2017 menunjukkan perbaikan, dimana NPF tahun 2017 (5,05%) turun dibandingkan tahun tahun 2016 (7,56%). Laba yang diperoleh menunjukkan peningkatan pada 3 tahun terakhir.

Laba tahun 2017 (Rp31,3 Miliar) meningkat dibandingkan tahun 2016 (Rp13,6 Miliar) dan tahun 2015 (Rp 6,4 Miliar). (rls/bos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here